Seperti mencoba menata kembali kepingan hati yang jatuh berserakan atau mengumpulkan kembali sisa-sisa kekuatan untuk bisa berdiri tegak kembali setelah badai… atau bahkan seperti melekatkan kembali irisan kulit yang terluka dengan perban yang akhirnya malah melengketi setiap perih. Seperti itulah aku, ketika kutahu dia melabuhkan hatinya. Tidak denganku. Tapi dengan Denise, sebelah jiwaku sejak dulu.
Denise memang tak pernah membayangkan semua kejadian yang terjadi begitu cepat dan seperti telah tertata sempurna layaknya sebuah skenario layar lebar, dan kutahu persis sahabatku itu bahkan tidak berani untuk merencanakan babak demi babak yang akhirnya berujung pada hari itu. Aku tahu. Aku yakin, sangat meyakininya. Karena Denise adalah sahabatku, juga dia… dia yang sangat kusayangi.
Hhh…
Menghela napaspun kini seperti berjuang.
Seperti berjuang melawan perih dengan menatap kedua bening mata Denise yang mengalirkan air mata tak tertahan, saat ini.
Denise menggenggam tanganku.
“I’m sorry, Lia…”
Dengan pandangan seperti itu, dengan raut wajah yang menyimpan gundah dan gelisah, dengan kedua bola mata yang basah dengan air asin hangat seperti itu… menatapku, lekat, dan memohon aku membuka pintu maaf dan meluruhkan semua bendungan emosi dan luka hati. Bisakah aku?
But she’s your bestfriend, Liana. Sayapnya adalah kamu… dan kamu adalah sayapnya. Masih bekukah kamu?
Aku seperti mendengar sesuatu. Sayup-sayup. Seperti mengajak berdialog, seperti mengajak untuk duduk dan merenung lalu berbuat sesuatu. Seperti menuturiku… seperti nuraniku. Diakah?
Aku tak tahu bagaimana cara mendengarkan nurani.
Suatu kali, pernah dia mengatakan sesuatu padaku.
Dia berkata, “Orang-orang jarang yang menggunakan nuraninya… Padahal kamu tahu, Lia, jarak antara otak dan hati tak lebih dari dua jengkalan jari… tapi herannya masih banyak orang yang tak mendengarkan hati…”
Tapi aku tak tahu bagaimana cara mendengarkannya, menggunakannya.
Hati dan otak tak terlampau jauh jaraknya, tapi mengapa yang kugunakan selama ini adalah otak semata yang menginstruksikan sesuatu hanya menurut mau dan keinginanku? Bukan hasil dari penyelaman hati dan nurani?
Saat aku bertanya caranya, dia hanya menjawab, “Kamu pasti bisa, hanya belum mencoba.”
Bagaimana?
Aku masih sulit menerjemahkan hatiku sendiri.
Dulu kuanggap aku paling bisa menerjemahkan dialog hati kecilku, tapi setelah berulangkali kulakukan apa yang diinginkan hatiku, yang ada malah suatu perih dan luka. Seperti ketika kuanggap Andy adalah segalanya… adanya malah dia memberiku luka yang saking dalamnya bahkan hingga kini bukan hanya masih membekas, tapi masih menganga perih. Kulakukan semua yang hatiku bilang, tapi yang ada malah luka demi luka yang datang seperti antrian orang menonton bioskop.
Jadi sejak saat itu, kubilang tegas, nurani telah menyesatkan aku.
Hati kecil, bukan lagi yang paling tahu.
Tapi logika dan otak.
Keyakinan yang kemudian meluntur sejak kukenal dia, yang tersayang… dan yang senyum lembut serta pandangan teduhnya adalah sebagian kecil dari kerinduanku yang terbesar.
Dia…
Dia yang kini menjauh…
Dia tidak menjauh, Liana. Dia masih ada untuk kamu. Untuk perih dan luka. Untuk memeluk setiap kamu lemah… Dia masih berbagi cerita, dia masih membagi ruang pikirnya untuk semua ceritamu. Kamu tidak kehilangan dia, dia masih sahabatmu….
Tapi dia lebih memilih Denise..
Aku jadi ingat Denise lagi.
Aku masih melihat matanya memerah. Sungguh. Aku ingin memeluknya, tapi aku seperti ingin berlari saja dari kenyataan ini. Terlalu pahit, terlalu menyakitkan. Aku tak sanggup. Aku tak berusaha membuat diriku menyanggupi.
“Lia…please…”
Aku menunduk.
What please? ‘Please, don’t be mad, okay?...’Please, forgive me?’… ‘Please, let me show you how I feel?... Please understand me for loving him that much?’… Please itukah yang ingin kamu ucapkan, Denise? Dan kamu berharap aku bisa memahami kamu yang menjatuhkan hatimu kepada dia yang sangat kucintai? Please… please… Lalu bagaimana dengan aku? Perasaanku? Sakitku? Please do something with me too, Denise!
Aku meronta… ingin menangis.
Tapi aku ingat dia lagi.
Ingat kalimat-kalimat bijaknya saat kami duduk berdua di teras rumah dan ia mulai berfilsafat.
“Jangan menempatkan harga dirimu terlalu tinggi, Lia. Karena ketika kamu merasa harga dirimu direndahkan oleh orang lain, yang ada hanyalah rasa sakit. Beda kalau kamu menempatkan harga dirimu di tempat yang rendah. Ketika harga dirimu dilecehkan, kamu hanya bisa tertawa dan orang lain yang menghinamu justru akan merasa percuma.
Pelajaran ini justru aku dapat dari tukang becak. Percaya nggak?”
Aku masih terdiam saat itu.
“Waktu itu aku marah dan bilang… dasar tukang becak, goblok!... dan tahu apa yang dia bilang? … Hmmm… dia bilang, ‘Mas, kalo saya pinter nggak akan jadi tukang becak…’… Kamu tahu essensinya apa? Ini soal pride. Dan akhirnya malah aku yang diam dan ketawa.”
Hh..
Harga diri.
Harga diri yang kini sedang kutempatkan di tempat yang paling tinggi.
Aku terlalu angkuh untuk memberi maaf. Aku terlalu angkuh untuk merendahkan sedikit saja. Aku terlalu terluka. Bisakah ada yang mengerti? Maukah Denise menyadari bahwa dia telah melukaiku dengan mengambil semua ruang di hati dia? Tidak menyisakan sedikitpun untuk aku… atau kenangan-kenanganku… apalagi cinta yang tulus, yang kubina dan kupelihara sedemikian rupa sampai berbunga… sampai tinggal terpetik… sampai tinggal tercium wanginya.. sampai dia akhirnya malah mencabut sampai akar-akarnya dan mengeringkan lahan tumbuhnya.
Dari awal, dia memang tak pernah berjanji apa-apa.
Mungkin dia sayang… aku tahu itu.
Tapi kalau soal akan menitipkan hati dan menyuruhku untuk menjaga hatinya… tak pernah ada kata-kata itu meluncur dari bibirnya.
Karena kuingat persis.
Suatu sore, menjelang aku pulang ke rumah, dia pernah mengatakan kalimat seperti ini:
“Sebagai manusia, kita harus nothing to lose. Mengalir saja, tanpa berharap terlalu tinggi pada sesuatu. Karena jika sesuatu itu tidak tercapai… apa yang kamu dapat? Sakit, Lia. Sakit.
Contoh kasusnya seperti ini.
Seandainya suatu saat kamu mengenalkan aku pada Denise… lalu tiba-tiba aku merasa sesuatu buat dia… dan naksir dia… Apa yang kamu lakukan?”
“Aku akan marah. Aku pasti kecewa.”
“Itu karena kamu berharap terlalu tinggi padaku.”
“Maksudnya?”
“Liana, apa menurutmu setiap keinginanmu harus terpenuhi? Lantas bagaimana dengan keinginan orang lain?”
“Maksudnya?”
“Kalau kamu berharap aku jadi kekasihmu tapi aku menyukai orang lain… apa aku harus jadi kekasihmu? Lantas bagaimana dengan kebahagiaanku sendiri?”
Sore itu, adalah suatu sore yang paling menyadarkanku atas segala bimbang dan raguku.
Kalimat-kalimat itu jelas.
Sangat jelas.
Ini menjelaskan tentang kedekatan kami, tentang apa artinya aku buat dia, dan seperti apa dia menginginkan dirinya dalam aku, pikiranku.
Aku mencintainya, dia tahu itu.
Aku sungguh menginginkan dia, … ah.. dia juga sangat mengetahuinya.
Tak kurang-kurang kubilang aku sangat menyayanginya.. and he knew it.
Tapi dia berkata seperti itu.
Dan aku sakit hati.
Terlebih di bagian ini, ketika kubilang padanya dengan air mata tertahan (dia tidak mengetahuinya, karena kami berbicara di telepon), “Jadi maksud kamu… aku harus berhenti berharap pada kamu? Aku harus berhenti memiliki great expectation dari hubungan ini?”
Yang kutakutkan adalah satu.
Kata iya.
Dan ketakutan itu terjadi.
Karena dia bilang, “Iya.”
Sore itu, aku seperti terempas dari kehidupan. Dari kebahagiaan.
Dia memang benar. Aku terlalu tinggi berharap, sampai aku terlalu kesakitan untuk menanggung ketiadaan pemenuhan atas harapan itu.
Kupikir dia menyayangiku
Kupikir dia mulai membuka hatinya padaku.
Tapi aku salah.
Aku sama sekali salah.
“…. Lantas bagaimana dengan kebahagiaanku sendiri?....”
Jadi dia tidak bahagia?
Kalau kini dia merajut cinta bersama Denise, artinya dia sudah menemukan kebahagiaannya?
Dia menemukan kembali bahagianya, Liana. Setelah bertahun-tahun larut dalam kilasan-kilasan trauma yang datang dan pergi seperti slide show presentation. Hadir, mengusik, pergi lagi, lalu hadir..pergi…hadir.. pergi. Kini dia menemukan rumahnya kembali, Liana. Tidakkah ada sedikit saja rasa sayangmu untuk dia? Katamu dia adalah orang yang sangat berarti untukmu, tapi kemana perginya kamu ketika dia membutuhkan sayangmu? Restumu…
Dia tak perlu restuku.
Siapa aku?
Dia memang orang yang tersayang bagiku… tapi siapa aku?
Aku hanya seorang Liana, sahabatnya.
Dia memang sering membagi ilmu dan pandangan-pandangan hidupnya denganku. Dia juga memang selalu meluangkan waktu untuk mendengarkan dan memberi nasehat. Dia yang kemudian melarut secara homogen dalam mimpi-mimpiku setiap malam, tanpa ada penolakan-penolakan, karena memang kuinginkan. Dia yang bilang, “Have a nice dream” tanpa tahu kalau definisi “a nice dream” adalah mimpi dengan dirinya sebagai tokoh sentral.
Tapi aku tak lebih dari itu.
Sahabat.
Indah.
Tapi masih tak lebih menyenangkan dibandingkan kata ‘Kekasih’.
Jadi dia tak perlu restuku.
Karena dia hanya sahabatku.
Dia tak butuh terbukanya pintu hatiku.
Karena terbuka atau tidak, dia lebih memilih Denise…
Denise, yang baru dikenalnya beberapa bulan yang lalu, ketika aku berjanji akan mengenalkan sahabatku itu dengan dia…
Harusnya kutahu, dia tertarik.
Harusnya aku menyadari, setiap gerak bola matanya seperti berusaha menangkap senyum manis Denise.
Mustinya saat itu, ketika dia larut dalam canda dan memandang terus kedua bola mata Denise dengan sangat antusias, dan memperhatikan semua cerita, aku tahu apa yang sedang terjadi.
Lebih-lebih ketika enam pekan berikutnya dia berkata, “Sepertinya aku menyukai Denise, Lia..”
I should’ve known it!
Tapi aku bodoh.
Karena aku masih berharap.
Great expectation… and it hurts too bad.
Saat itulah, kuingat kembali kata-katanya saat itu.
….“Kalau kamu berharap aku jadi kekasihmu tapi aku menyukai orang lain… apa aku harus jadi kekasihmu? Lantas bagaimana dengan kebahagiaanku sendiri?”…
Egoisnya aku…
Ahh…
Ternyata aku masih sama saja.
Masih seperti anak kecil yang baru tumbuh gigi, karena semua kalimat-kalimat bijak itu belum terkunyah sempurna olehku.
Kapan aku mulai berubah?
Kapan aku tetap seperti ini?
Tetap menggenggam harga diri erat-erat sementara ingin merangkul Denise dan mengucapkan selamat atas hari bahagianya esok pagi?
Denise masih menangis.
Memegang lutut dan memohon di kakiku.
Hei… siapa aku?
Dia tak perlu melakukan itu semua hanya karena aku terlalu gengsi memberikan restu dan merelakan dia bahagia.
“Denise.... please don’t cry. Besok kamu harus tampil cantik. Kalau kamu menangis terus seperti ini, kamu akan terlihat kurang segar dan kamu akan menyesalinya. Sudah deh…..”
Denise memandangku tak percaya.
“Lia… kamu…”
“Iya.”
“Kamu nggak marah lagi, kan? Kamu memaafkan aku kan?”
“Apa yang perlu dimaafkan?” Kupandangi Denise. “Maafkan aku, Denise. Aku yang salah. Aku yang egois. Aku…”
Denise malah merangkulku.
Dia menangis, aku juga.
Dia sahabatku, aku juga sahabatnya. Masih pantaskah aku menghilangkan semua yang indah-indah selama belasan tahun hanya karena aku yang terlalu emosional dan menyikapi semua ini dengan otak tanpa hati?
“Denise… sekarang pulanglah. Tenangkan hatimu… supaya besok bisa lancar. Aku akan datang pagi-pagi dan membantu kamu bersiap-siap. Boleh kan?”
Denise menganggukkan kepalanya.
“Terima kasih, Liana…”
“No. Thank you, not me.”
Denise tersenyum lalu pergi.
Hmm…
Ada perasaan tenang menyusup di hatiku. Rasanya seperti telah memenangkan satu pertandingan dan aku melonjak gembira karena telah berhasil melakukannya.
Tapi… ada satu pertandingan lagi.
Bukan dengan Denise.
Tapi dengan dia.
Aku mengambil telepon, lalu mendial nomor ponselnya.
Belum lama, kudengar suaranya.
Suara yang kurindukan.
‘Kenapa, Lia?’
‘Apa kabar?’
‘Baik. Kamu juga?’
‘Iya…. Ngg….’
‘Kenapa?’
‘Aku kangen.’
‘Iya, aku tahu. I miss you too.’
‘Maafkan aku.’
‘Aku juga.’
‘Aku nggak enak sama kamu.’
‘Aku merasa enak-enak aja, kok.’
‘..nngg…’
‘Kayak Moerdiono aja… ah eh ng gitu… hehehe…’
Aku tertawa. Aku kangen candanya. Sudah sekian lama aku berhenti menemui dan menelepon dia. Mungkin lebih dari dua bulan aku memutuskan tali silahturahmi dengan dia. Padahal kuingat betul dia pernah bilang, “Kalau kamu memutuskan tali silahturahmi, berarti kamu memutuskan pula tali rezekimu…”
Bisa terbayang, kan, bagaimana mungkin aku tidak mencintainya?
Cinta yang bukan berarti harus memiliki…
Hh…
‘I just wanna tell you this.’ Aku harus bicara. Ini penting.
‘What is it?’
Seperti mencoba mengeluarkan sesuatu yang sangat besar dari rongga mulutku, seperti berusaha mengunyah tanpa gigi, seperti berusaha menggengam tanpa jemari… aku seperti tak bisa melanjutkannya.
Tapi kamu harus bisa, Lia. Dan aku tahu kamu pasti bisa melakukannya. Ini bukan kekalahan, ini justru menunjukkan betapa dirinya sangat berarti dan betapa kamu sangat berarti dalam hidupnya. Ini saatnya kamu menerjemahkan aku sebagaimana mestinya. Coba dengarkan aku, Lia. Please. Dengarkan aku…Lakukan, Lia. Tell him.
Itukah hatiku?
Betulkah yang kudengar samar-samar tadi adalah ‘hatiku’? Apa aku tidak salah menejermahkannya? Benarkah? Setelah sekian lama menutup telinga untuk hati, ternyata ia tak berhenti menuturiku?
Hatiku mengajakku berdialog.
Dan aku mendengarnya!
Hmm… jadi aku harus melakukannya.
Meski berat, meski menyakitkan. Tapi aku harus melakukannya dengan hati yang lapang dan pikiran yang tenang.
‘Sam…?’
‘Iya.’
‘Aku sayang kamu… Semoga kamu bahagia…’
Kutahu, itu yang dia butuhkan. Itu yang ingin dia dengarkan.
Bagaimanapun, dia adalah sahabatku, dia selalu menjadi bagian terbaik dalam babak-babak kehidupanku.
Dia, Samuel, yang sangat kucintai, kubanggai, kusayangi… Yang senyumnya adalah termanis, yang kalimatnya adalah peneduh, yang kedua bola matanya adalah seperti pelita…
Dia, Samuel, seorang sahabat yang akan selalu menempati ruang terindah dalam hatiku, hidupku.
Meski aku tahu…dia… yang tak pernah menjadi kekasihku…
Lyrics | Wilson Phillips lyrics - You're In Love lyrics
***
Originally written on Dec 11, 2004
0 comments:
Post a Comment